Pernahkah kamu menangis karena seorang tokoh novel?
Atau merasa kosong setelah sebuah drama selesai?
Anehnya, kamu tahu mereka tidak pernah benar-benar ada. Mereka tidak pernah lahir, tidak pernah bernapas, bahkan mungkin hanya sekumpulan kata di atas kertas.
Lalu... kenapa rasanya seperti kehilangan seseorang yang nyata?
Kalau dipikir-pikir, bukankah itu aneh?
Kita bisa menghabiskan berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, mengikuti perjalanan seseorang yang sebenarnya tidak pernah hidup.
Kita tertawa saat mereka bahagia...
Kita ikut marah ketika mereka disakiti...
Kita ikut takut saat mereka berada dalam bahaya...
Dan...
Ketika kisah mereka berakhir...
Ada ruang kosong yang sulit dijelaskan.
Padahal, kita tahu semuanya hanyalah fiksi.
Lalu, apakah hati kita sedang tertipu?
Atau...
Memang hati tidak pernah peduli apakah seseorang itu nyata atau tidak?
Mungkin selama ini kita mengira bahwa rasa sayang hanya bisa tumbuh karena kehadiran fisik.
Karena percakapan yang nyata.
Karena sentuhan atau pertemuan.
Namun, bukankah setiap emosi selalu berawal dari sebuah cerita?
Saat seseorang menceritakan masa kecilnya yang sulit, kita ikut merasa iba.
Saat membaca berita tentang orang yang belum pernah kita temui, kita bisa ikut sedih.
Bahkan ketika mendengar lagu yang liriknya tidak menceritakan hidup kita, tiba-tiba mata terasa panas.
Kalau begitu, mungkinkah yang membuat sebuah hubungan terasa nyata bukan keberadaan seseorang, melainkan emosi yang ia tinggalkan?
.
.
Apakah kita benar-benar merindukan tokoh itu?
Atau sebenarnya kita merindukan perasaan yang ia ciptakan di dalam diri kita?
Mungkin karakter itu membuat kita merasa dimengerti..
Memberi harapan ketika hidup sedang berantakan..
Menjadi tempat pulang saat dunia terasa terlalu bising..
Saat ceritanya selesai...
Bukan hanya mereka yang pergi...
Ada bagian kecil dari diri kita yang ikut mengucapkan selamat tinggal.
Mungkin itu sebabnya sebuah buku bisa terasa seperti rumah..
Sebuah drama bisa terasa seperti kenangan..
Dan seorang tokoh fiksi bisa terasa seperti teman lama..
Semakin dipikirkan, semakin sulit membedakan mana yang benar-benar kita rindukan.
Apakah sosoknya?
Atau...
Versi diri kita saat masih berada di dalam cerita itu?
Karena setiap cerita selalu datang di waktu yang berbeda.
Ada yang menemani kita saat sedang jatuh cinta.
Ada yang hadir ketika kita kehilangan seseorang.
Ada yang menjadi satu-satunya tempat untuk melarikan diri ketika kenyataan terasa terlalu berat.
Jadi, ketika cerita itu selesai, mungkin yang tertinggal bukan hanya kenangan tentang tokohnya.
Melainkan kenangan tentang siapa diri kita saat itu.
Dan mungkin, itulah alasan mengapa beberapa karakter tidak pernah benar-benar pergi.
Mereka hidup di tempat yang tidak bisa disentuh siapa pun...
Di dalam ingatan...
Di sela-sela kalimat yang pernah kita baca..
Dan di bagian hati yang diam-diam berubah karena mereka...
Jadi, menurutmu...
Apakah kita benar-benar bisa merindukan seseorang yang bahkan belum pernah ada?
Atau sebenarnya, yang kita rindukan adalah bagian dari diri kita yang pernah hidup bersama mereka?
.
.
Sebelum Kamu Pergi...
Kalau kamu pernah menutup sebuah buku, lalu terdiam cukup lama sambil bertanya-tanya kenapa dadamu terasa begitu sesak...
Kalau kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar ada...
Mungkin, cerita-cerita berikut ini juga sedang menunggumu.
When Breath Becomes Air (memoar, non fiction)
.
.
This post may contain affiliate links. As an Amazon Associate, I earn from qualifying purchases at no extra cost to you.
